Awareness

Pernah denger sebuah kutipan seperti ini:

“Sebuah bangsa dinilai beradab atau tidaknya dari cara masyarakatnya berlalu lintas.”

Hari ini sebelum berangkat nguli, menghadapi beberapa perempatan jalan yang mana lampu lalu lintasnya mati, dan tidak ada petugas sama sekali. Dan apa yang terjadi? Ya, deadlock, kendaraan bertumpuk di tengah, semua ingin lebih dulu melaju karena diburu waktu.

Contoh-contoh kekurangan kesadaran orang kita (baca: Indonesia) banyak, yang paling sering ditemui biasanya mengambil hak pengguna lain untuk kepentingan sendiri. Misal, motor melaju di trotoar, mobil parkir naik ke trotoar, mobil diam di perempatan di area khusus motor, motor/mobil diam di perempatan di area zebra cross, motor/mobil non bus masuk ke jalur khusus bis (busway). Ya saya pun kadang melakukannya, sekarang berusaha menghindari melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut.

Beberapa waktu lalu, kebetulan saya dikasih kesempatan ama bos buat tinggal di negara sebelah selama 1 bulan. Melihat dari cara orang sana tertib lalu lintas, merasa malu banget sering ngelanggar di negeri sendiri. Perbedaannya sangat-sangat jauh, bagai Indonesia dan Singapura. Sebenarnya hal paling mendasar adalah kesadaran untuk tertib atau mematuhi peraturan.

Contoh kecil, waktu saya mau nyebrang, mobil ada sekitar 50-an meter sebelum zebra cross, lalu tiba-tiba berhenti padahal saya belum nyebrang. Di sini, beuh udah diklakson abis-abisan ama yang naik mobil. Padahal di sana polisi sangat-sangat jarang sekali terlihat, tapi ketika ada suatu kejadian, mereka tiba-tiba ada. Pos polisi pun jarang sekali terlihat. Di sini, orang baru berusaha patuh kalo ada polisi yang jaga.

Intinya sih, balik ke kesadaran masing-masing

Leave a Reply